Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2011

Kisah Ka’ab bin Malik Dalam Perang Tabuk

 saya pertama membaca kisahnya dalam buku “Yang Berguguran di Jalan Dakwah” karya Fathiyakan. Semoga bisa bermanfaat.
Pada perang Tabuk, ada beberapa sahabat yang tidak berangkat berperang. Salah satu di antar mereka. Salah satu di antara mereka adalah Ka’ab bin Malik. Marilah kita dengarkan cerita Ka’ab yang menunjukkan kejujuran imannya, usai turunnya pengampunan Allah atas dosanya.
“Aku sama sekali tidak pernah absent mengikuti semua peperangan bersama Rasululah saw, kecuali dalam perang Tabuk. Perihal ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu adalah karena kelalaian diriku terhadap perhiasan dunia, ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memikinya.
Sungguh, tidak pernah Rasullah saw. merencanakan suatu peperangan melainkan beliau merahasiakan hal itu, kecuali pada perang Tabuk ini. Peperangan ini, Rasulullah saw. lakukan dalam kondisi panas terik matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh. Jadi, rencananya jelas sekali bagi kaum muslimin untuk mempersiapkan diri masing-masing menuju suatu perjalanan dan peperangan yang jelas pula.
Rasulullah saw. mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati, “Aku bisa melakukannya kalau aku mau!”
Akhirnya, aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah. Aku lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, maka timbul pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku.

Selasa, 15 Februari 2011

SALMAN AL-FARISI MENGGAPAI HIDAYAH DALAM HIDUPNYA

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, amma ba’du:

Setiap orang yang memiliki fitrah yang bersih pastilah dia senantiasa mengharapkan hidayah itu ada pada dirinya. Banyak orang yang ingin mendapatkan hidayah, tetapi hidayah itu jauh darinya, disebabkan karena dia tidak mengetahui hidayah yang sebenarnya dan cara untuk mendapatkannya. Sebagian orang mencari hidayah dengan melakukan amalan yang sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan amalannya itu sesuai dengan sunnah yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak, sebagian lagi orang menganggap jika dia berada dalam kelompok/golongan tertentu berarti dia telah berada diatas hidayah, sebagian yang lain lagi mereka meremehkan dalam masalah usaha untuk mendapatkan hidayah. Mereka menganggap bahwa walaupun tidak melakukan usaha, jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki hidayah, maka Allah akan memberikannya. Maka ketiganya adalah anggapan yang salah.